Minimnya Penyediaan Pangan Sebagai Pemenuhan Gizi Pasca Badai Seroja.

Oleh : Jelly Tresia Penna.
Mahasiswa  semester 6 FKM undana Kupang Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku.

PENA NTT, Secara geografis wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dan memilki dua musim yaitu musim panas dan musim hujan dengan perubahan cuaca yang cukup ekstrim. Kondisi seperti ini dapat memicu ancaman-ancaman akibat kondisi hidrometeorologis seperti bencana alam. Pada awal bulan April tepatnya tanggal 5 April 2021 NTT diterpa dengan badai siklon seroja.

Read More

Badai siklon tropis  ini menerjang semua daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Badai ini  menimbulkan dampak yang serius terlebih pada beberapa kabupaten baik itu kabupaten Alor, Kupang, Flores, Timor, Rote Ndao dan Sabu Raijua yang terasa sekali dampaknya. Seroja mempunyai kekuatan yang besar dengan radius rata-rata siklon tropis berkisar antara 150 hingga 200 km per jam yang menimbulkan tiupan angin kencang, hujan lebat, bahkan pasangnya air laut. Aktivitas masyarakat NTT menjadi terhambat terkhususnya petani yang harus gagal panen karena banyak sawah yang rusak akibat angin kencang. Tanaman yang gagal penen seperti padi, pisang, dan sayur-sayuran.

Hal ini mempengaruhi ketersediaan pangan menjadi berkurang serta harga pangan menjadi tinggi, sehingga masyarakat mengalami pengurangan pemenuhan gizi pasca bencana tersebut.

Dikutip dari bnpb.go.id (Jumat 9 April 2021) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pendistribusian bantuan pasca badai siklon seroja yaitu berupa kasur lipat, selimut, alat test rapid antigen, pembalut , alat perlengkapan bayi dan juga bantuan  408 paket makanan siap saji, 642 paket lauk pauk, 408 paket makanan tambahan gizi. Selama pasca badai siklon seroja ini banyak ditemukan begitu banyak bantuan yang dilakukan oleh sukarelawan, pihak kesehatan yang dengan spontan memberi bantuan fisik maupun non fisik.

Melihat bahwa bantuan begitu terbatas, Alternative tidak selamanya menjadi prioritas utama, banyak lembaga maupun pihak yang berwenang menggunakan dana untuk rekonstruksi di wilayah yang tertimpa bencana seperti bahan-bahan bangunan dan bahan pendukung lainnya. Negara menghabiskan uang hanya bantuan materi selama masa pasca bencana tanpa disadari bahwa pemenuhan gizi pasca bencana sangatlah penting dalam setiap aktivitas manusia. Kekurangan gizi pasca bencana menjadi faktor masalah penurunan kondisi kesehatan seseorang.

Mengonsumsi makanan bukan hanya soal memenuhi rasa lapar namun, perlu memperhatikan kandungan gizi yang ada pada makanan. Kandungan gizi sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh , jika makanan yang dimakan memiliki kandungan gizi yang sehat dan sempurna dapat menyehatkan tubuh kita. Tanpa tubuh yang sehat maka resiko penyakit akan lebih rentan. Oleh sebab itu Kebutuhan makanan  sangat diperlukan terhadap pemenuhan gizi selama bencana.  Banyak  bantuan makanan pasca bencana ialah makanan siap saji seperti mie instan (indomie) dan beras.

Dapat dilihat bahwa kurangnya keberagaman makanan karena masyarakat hanya menerima pemenuhan kalori dan nutrisi yang rendah. Jika masalah ini tidak segera diatasi maka akan berdampak pada masalah kesehatan kedepannya. Ketersediaan pangan ialah Kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman merata dan terjangkau.

Penyediaan makanan pasca bencana tidak hanya mencakup seberapa besar dan  banyaknya yang disalurkan. Namun perlu memperhatikan kebutuhan gizi yang dibutuhkan  seperti penyediaan pangan yang bervariasi.

Pangan merupakan kebutuhan dasar setiap orang yang bersumber dari makanan yang mengandung  karbohidrat, protein, lemak dan kandungan gizi lainnya , Ketahanan pangan sangat diperlukan pasca bencana karena setiap orang membutuhkan akses fisik, ekonomi bahkan sosial terhadap kebutuhan pangan yang cukup.Melihat keadaan yang telah terjadi akibat siklon ini salah satu yang perlu diupayakan ialah penyediaan pangan yang cukup untuk pasokan pemenuhan gizi pasca bencana

Berdasarkan hal tersebut yang dapat dilakukan pertama yaitu penyediaan, dimana ketersediaan makanan ini mengacu pada jumlah pasokan kebutuhan pangan untuk daerah yang terkena bencana. Ketersediaan pangan ini perlu diperhatikan oleh pemerintah terkait dengan mutu  jumlah serta gizi pangan. Ketersediaan panganpun dapat disediakan oleh masyarakat yaitu dengan memanfaatkan kearifan lokal pangan liar yang bisa dikonsumsi dan mempunyai nilai gizi yang tinggi, seperti daun kelor yang menjadi budidaya masyarakat NTT mudah didapatkan.  Kedua ialah akses,  yaitu bagi masyarakat yang masih memiliki akses makanan misalkan dari hasil pinjaman atau pasar – pasar lokal yang masih memiliki ketersediaan pangan. Ketiga ialah pemanfaatan dimana pemanfaatan ini masyarakat dapat menggunakan pangan yang masih dimanfaatkan misalkan dari hasil kebun rumah tangga.**

*Isi Tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. .

Related posts